Bagi teman-teman yang telah melakukan survei menggunakan skala Likert di Indonesia, mungkin kita menemukan masalah yang sama. Banyak responden cenderung memberikan jawaban yang berada di bagian tinggi skala, misalnya 4 atau 5 di skala 5. Bahkan, pada skala 10, jawaban seringkali berkisar pada angka 7, 8, 9, atau 10. Padahal, ada pertanyaan yang seharusnya dijawab dengan angka rendah, seperti 1 atau 2, namun jarang sekali responden melakukannya. Fenomena ini mungkin juga ditemui di negara lain, tetapi cukup umum di Indonesia. Di negara-negara Eropa atau Amerika, mereka lebih terbuka untuk menjawab nilai rendah, bahkan saya pernah analisis di Singapura pun masih tersebar jawabannya.


Hal ini menjadi masalah karena tujuan dari skala Likert adalah untuk mendapatkan distribusi jawaban yang beragam dari yang rendah hingga yang tinggi. Jika semua jawaban terpusat di angka tinggi, kita tidak bisa mengetahui dengan jelas seberapa besar minat responden terhadap produk yang kita tawarkan. Misalnya, jika banyak responden menjawab 4 atau 5, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa mereka akan membeli produk kita? Mungkin saja produk tersebut sebenarnya tidak laku di pasaran. Ini bisa menjerumuskan kita pada kesimpulan yang salah. Kita mungkin merasa produk kita sudah siap diluncurkan karena rata-rata jawaban responden mendukung. Namun, seringkali jawaban tersebut tidak mencerminkan realitas.


Untuk mengatasi masalah ini, ada tiga tips yang saya biasa gunakan dalam survei dengan skala Likert di Indonesia:

1.    Gunakan Produk Pembanding: Tanya responden tentang produk kita, lalu bandingkan dengan produk kompetitor. Dengan cara ini, kita bisa melihat perbedaan signifikan antar produk. Jika tidak ada perbedaan yang jelas, tambahkan pertanyaan tentang produk mana yang mereka pilih lebih tinggi nilainya.


2.    Bandingkan dengan Standar: Gunakan norma atau standar dari jawaban responden di Indonesia. Misalnya, jika rata-rata jawaban adalah 4.78 dari skala 5, secara kasat mata nilainya tinggi, namun kita perlu mengetahui apakah itu lebih baik atau lebih buruk dibandingkan dengan standar umum rata-rata orang Indonesia atau kita sebut norm. Norm ini juga bisa bervariasi tergantung kategori atau profil responden, seperti gender atau usia.


3.    Analisis Top Box: Fokus pada jawaban tertinggi di skala Likert. Untuk skala 5, lihat hanya responden yang memilih top box nya atau angka tertinggi yaitu 5. Sedangkan untuk skala 10, kita bisa melihat berapa persen yg memberikan jawaban 10, atau untuk skala Likert yang lebih banyak, bisa pertimbangkan juga mereka yg memilih top 2 box yaitu 9 atau 10.


Ini selalu jadi tantangan, tapi masih dapat kita cari cara sehingga jawaban orang Indonesia yang cenderung baik hati ini tetap dapat dianalisis dengan Likert, walaupun tujuan dari Likert sendiri tidak tercapai yaitu mendapatkan jawaban yang tersebar. Ada cara lain? Ada, yaitu di normalized, kita bahas next artikel saja ya.