Lho kok? Bukannya research salah satu sumber utamanya adalah apa yang konsumen katakan. Betul, pada saat kita melakukan research kita mendapatkan jawaban dari konsumen berdasarkan concern kita miliki. Tetapi harus tetap kita masukan ke mindset adalah melihat jawaban mereka dengan juga memahami mengapa mereka menjawab itu.

Saya coba share dua kasus yang sering terjadi.

Kasus Pertama: Dalam banyak survei, pertanyaan tentang faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian sering kali menghasilkan jawaban bahwa harga adalah yang terpenting, atau masuk ke tiga besar faktor penting dalam pemilihan produk atau merek. Respons semacam ini dapat menjadi jebakan; rekomendasi yang diambil dari hasil tersebut adalah untuk menurunkan harga atau memberikan diskon. Namun, pendekatan ini tidak selalu menjadi solusi yang tepat. Faktanya, konsumen dari berbagai lapisan ekonomi mempertimbangkan harga, tetapi anggaran mereka berbeda. Konsumen dengan budget terbatas akan lebih berhati-hati dalam memilih produk, sedangkan konsumen dengan kapasitas anggaran lebih tinggi mungkin berani membayar lebih untuk nilai tambahan.


Sebaiknya, kita juga perlu mengeksplorasi faktor lain yang dapat  meningkatkan nilai produk. Dapat dilihat dari jawaban top 3 atau top 5 yang lain. Dengan memberikan value lebih, harga tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan konsumen. Ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya harus mendengarkan suara konsumen, tetapi juga memahami apa yang memengaruhi keputusan mereka.


Kasus Kedua: Beberapa kali saya melakukan studi untuk restoran. Ketika ditanya mengapa mereka tidak pernah mengunjungi restoran tertentu meskipun sudah tahu, banyak konsumen menjawab lokasinya jauh. Dalam konteks ini, jawaban jelas dan membawa rekomendasi untuk membuka cabang baru berdasar asumsi bahwa semakin dekat lokasinya, semakin meningkat kemungkinannya dikunjungi.

 
Kita telaah lagi mengapa konsumen menjawab lokasi jauh. Mengapa lokasi jauh menjadi alasan, padahal analisis yang lebih dalam menunjukkan bahwa ternyata banyak konsumen yang bersedia melakukan perjalanan jauh jika ada nilai yang sepadan dengan effort mereka. Sebagai contoh, saat mengamati pengunjung pameran GIIAS di Tangerang, banyak dari mereka datang dari luar Jabodetabek.


Jadi, daripada membuka cabang baru, strategi yang lebih efektif mungkin adalah meningkatkan daya tarik restoran itu sendiri, bisa dengan experience yang ditawarkan, memberikan testimoni konsumen, serta menawarkan menu unik, sehingga konsumen akan lebih termotivasi untuk mengunjungi restoran meski lokasinya jauh.


Kedua kasus menggambarkan pentingnya tidak hanya mendengar apa yang dikatakan konsumen, namun juga memahami mengapa mereka menjawab hal tersebut. Dengan demikian, kita dapat membuat rekomendasi lebih tepat dan tidak menelan bulat-bulat apa kata konsumen. Punya kasus lain? Monggo di share juga ya.